Berita Akurat - Berbagai kasus perselingkahan belakangan ini menjadi perhatian publik.
Mulai dari kaus perselingkuhan artis, dokter, hingga profesi lainnya.
Belakangan yang paling menyedot perhatian publik adalah ''Bu Dendy''. Sebuah video yang beredar di media sosial menunjukkan orang wanita yang disebut sebagai ''Bu Dendy'' sedang menghamburkan puluhan lembar uang kepada seorang perempuan lainnya.
Hal ini lakukan lantaran wanita dihadapannya dituduh telah merebuh suaminya atau yang kerap disebut perebut laki orang Cpelakor).
Kasus serupa juga pernah dialamai oleh artis Jenifer Dunn. Jenifer didatangai oleh seorang anak perempuan yang menyebutnya telah merebut sang ayah.
Kedua kasus tersebut memounyai sebuh kemiripan yaitu, pihak perempuan yang dianggap menjadi pihak ketiga yang disalahkan. Hal ini tak hanya terjadi pada kedua kasus tersabut saja, tapi banyak kasus-kasus lainya.
Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa wanita dalam hal ini selalu menjadi pihak yang disalahkan ketiga terjadi perselingkuhan?
Untuk menjawab hal tersabut, kompas.com menghubungi Katrin Bandel,dosen llmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma yang juga ahli dalam kajian gender'.
Katren menyebut bahwa kasus-kasus perselingkuhan berkaitan dengan relasi pribadi yang sangat kompleks.
''Apabila dikaji secara mendalam, pasti setiap kasus berbeda dengan yang lain. dan hampir mustahil dinilai secara tegas, siap yang 'salah' dan siapa yang 'benar','' ungkap Katrin melalui pesan singakat, jumat (23/02/2018).
''Masalahnya adalah, media massa tidak mungakin menghormati kompleksitas itu. sudah menjadi ciri khas media massa bahwa segala sesuatu disederhanakan, juga cenderung dicari unsur sensasionalnya," imbuh Katrin.
Perempuan berhijab ini juga menjelaskan bahwa dalam penyederhanaan oleh media, sering kali berbagai pandangan stereotipikal menyusup masuk. Salah satunya terkait dengan gender.
Di antaranya, pandangan bahwa laki-laki seakan-akan secara 'alami' lebih mudah tergoda, bangkit hasrat seksualnya, dan bahwa salah perempuanlah kalau itu terjadi, karena perempuannya terlalu menggoda," ujar perempuan yang menulis buku Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial tersebut.
Menurutnya, dengan imaji maskunitas tersebut, laki-laki kemudian dipandang wajar jika tidak memiliki kontrol diri yang cukup kuat.
"Sehingga 'sewajarnya' mengejar perempuan lebih dari satu. Seakan-akan tidak bisa disalahkan kaena sudah 'naturnya begitu'," kata Katrin.
Katrin juga menegaskan bahwa stereotipe semacam itu tidak ada di dalam ajaran agama manapun.
"Baik ajaran agama maupun realitas di masyarakat sebetulnya tidak mendukung pandangan seperti itu. Jadi itu murni mitos atau stereotipe tanpa dasar," katanya.
Stereotipe yang diungkapkan Katrin juga disebutnya bukan khas Indonesia.
"Saya pikir itu bukan konsep maskulinitas yang khas Indonesia. Pandangan serupa bisa ditemukan di banyak tempat," ujar dosen tersebut.
"Justru yang agak aneh adalah, saya rasa konsep maskulinitas di Jawa umumnya tidak demikian. Laki-laki terhormat diekspektasikan untuk sangat bisa mengontrol emosinya, termasuk syahwatnya. Dalam budaya Jawa, kesannya sangat kurang jantan kalau seorang laki-laki mengumbar emosinya," tutup Katrin.
Selamat Datang di KORANPOKER
Agen Poker Online Terbaik & Terpercaya di INDONESIA
Ada 6 Permainan Dalam 1 ID :
- TEXAS POKER
- DOMINO QQ
- BANDAR CEME
- CEME KELILING
- CAPSA SUSUN
- LIVE POKER
Minimal DEPO : Rp 20.000
Minimal WD : Rp 50.000
BONUS Besar di KORANPOKER :
* Bonus New Member 10%
* Bonus Deposit 3%
* Bonus Cash Back 0.3% - 0.5%
* Bonus Referral 30% (Seumur Hidup)
* Bonus Ulang Tahun
* Bonus Pertolongan
Untuk Informasi Lebih Lanjut Silahkan Hubungi CS Kami yang Selalu Standby 24 Jam di:
* BB : D62B4D54
* Line : fero.5088
* Live Chat : Cs Cha
Tunggu Apalagi? Segera Daftarkan Diri Anda Hanya di www.koranpoker.com
KORAN POKER - AGEN POKER TERPERCAYA
0 Komentar