Berita Hot - Perselisihan antara pengemudi becak motor (betor) dan jasa transportasi dalam jaringan (online) di Medan, berlanjut. Seorang pengendara Grab-car, Franky Kie, menjadi korban penyerangan.
Dia menderita luka setelah dikeroyok oknum yang diduga pengemudi betor di Jalan Gatot Subroto Medan, dekat Plaza Medan Fair, Rabu (22/2).
Berdasarkan informasi yang diperoleh, korban yang mengemudikan mobil Toyota Avanza itu dianiaya ketika hendak keluar dari areal Plaza Medan Fair. Sekelompok pria diduga pengemudi betor mengepung dan menahan mobilnya.
Mereka lalu memukul mobil dan korban. Akibatnya, korban menderita luka di bagian mata kiri karena terkena hantaman benda tumpul.
“Heran juga, kenapa mereka (pengemudi betor) bisa tahu. Mungkin dijebak,” kata seorang sopir Grab, Ridho, kepada wartawan.
Atas kejadian ini, pihaknya meminta kepolisian dapat menuntaskan kasus penganiayaan yang dilakukan terhadap pengemudi transportasi online. “Kalau sudah begini, kita ‘kan enggak aman bekerja,” sambungnya.
Kapolsek Medan Baru, Kompol Roni Boonic, menjelaskan pihaknya masih melakukan penyelidikan terhadap kasus ini. “Anggota sudah ke TKP (tempat kejadian perkara) untuk melakukan penyelidikan dan korban sudah dibawa ke rumah sakit,” imbuhnya.
Sebelumnya, buntut dari aksi penolakan para betor, Selasa (21/2), kedua pihak juga nyaris bentrok di Stasiun Kereta Api Kota Medan.
Berdasarkan informasi, pengemudi Go-jek merasa tidak terima diperlakukan kasar. Pantauan di lokasi, suasana panas bermula saat seorang pengemudi online ingin mengambil penumpang di stasiun.
“Padahal, wilayah sekitar stasiun ini jatahnya betor. Taksi saja tidak bisa mangkal di sini,” ujar petugas parkir di sekitar stasiun, Fery.
Keributan pun terjadi. Para pengemudi betor dan online bertengkar. Akhirnya, sejumlah teman pengendara online yang disebut-sebut mencapai ratusan orang, pun datang. Beberapa becak dirusak.
“Ada ratusan pengemudi yang datang,” kata seorang pengemudi betor, Ucok. Dua betor yang dirusak itu diketahui milik Muhammad Nur dan Bobi Hasibuan.
Bentrokan pun nyaris pecah. Namun, petugas kepolisian berhasil menghalau. Terlihat di lokasi petugas Sabhara Polrestabes Medan dan Polsek Medan Barat melakukan pengamanan.
Keberadaan angkutan online dinilai merugikan dan mengurangi pendapatan para pengemudi betor yang menawarkan jasa transportasi umum secara konvensional.
“Sebelum mereka beroperasi, pendapatan kami bisa sampai Rp300 ribu/hari. Tapi, sekarang, untuk mendapatkan Rp100 ribu saja sulit,” ujar Ucok.
Disampaikannya, jika tidak dijumpai titik temu atas persoalan ini, apalagi setelah melakukan aksi, pengemudi betor mengancam akan melakukan tindak kekerasan.
Tindak tegas
Kapolda Sumut, Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, menegaskan, pihaknya akan menindak tegas pelaku razia (sweeping) moda transportasi Go-jek.
Aksi ala premanisme tersebut telah meresahkan dan mengganggu ketertiban umum.
“Kita akan tindak tegas pelaku sweeping Go-jek,” ungkap Kapolda melalui Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan.
Menurutnya, aksi itu dilarang, apalagi dilakukan secara anarki. Jika terbukti bersalah, pelakunya akan ditindak sesuai hukum yang berlaku.
“Pasti kita tindak kalau kita temukan sweeping di jalanan,” katanya.
Ditambahkannya, jika moda transportasi lain keberatan atas keberadaan Go-jek yang cenderung digemari masyarakat sebagai transportasi alternatif, lebih baik disampaikan kepada pihak berkompeten dengan cara santun dan damai.
“Sampaikan saja pendapat yang keberatan kepada pihak berwajib. Harusnya mereka bersaing secara sehat, jangan malah bentrok karena mereka yang rugi. Belum lagi kalau diproses hukum, ‘kan keluarga mereka juga rugi,” pungkas mantan Kapolres Nias Selatan tersebut.
Polisi terus patroli
Pantauan Analisa hingga Rabu malam, massa dari kubu taksi online dan betor berkumpul di depan Stasiun Kereta Api Medan.
Puluhan kendaraan taksi online serta ratusan betor memadati jalan. Lalu lintas di sekitar Lapangan Merdeka hingga Jalan Perdana sempat macet.
Namun, situasi dapat dikendalikan sehingga tidak terjadi bentrokan antarkedua pihak karena personel Polrestabes Medan melalui mobil patroli meminta kedua pihak membubarkan diri dengan tertib.
Jika tidak, polisi akan melakukan tindakan tegas.
“Kita minta kedua pihak membubarkan diri untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kondisi malam ini merupakan buah dari aksi kemarin dan tadi siang.
Kepolisian akan terus patroli untuk berjaga-jaga sampai situasi kembali kondusif,” ujar Kasat Sabhara Polrestabes Medan, AKBP M Fadris Sangun Ratu Lana, di lokasi.
Situasi Kota Medan sendiri, Rabu malam, tetap terpantau aman. Mobil patroli polisi masih berjaga-jaga di Jalan Gatot Subroto, depan Plaza Medan Fair.
Sebelumnya, Rabu siang, sempat terjadi penyisiran pengendara taksi dan ojek online oleh penarik betor.
Dalam beberapa video amatir yang beredar di media sosial tampak penarik betor menghentikan pengendara ojek online di jalan dan memaksa mereka untuk melepas jaket dan helm yang digunakan, lalu membuang dan membanting helm tersebut.
KORANPOKER.COM - AGEN POKER TERPERCAYA DI INDONESIA
====================================
MAU MENCOBA SENSASI MENJADI BANDAR?
SILAHKAN KUNJUNGI WEB KAMI DI
WWW.KORANPOKER.COM
6 GAMES DALAM 1 ID :
- TEXAS POKER
- DOMINO QQ
- BANDAR CEME
- LIVE POKER
- CAPSA SUSUN
- CEME KELILING
Minimal DP : Rp. 20.000,-
Minimal WD : Rp. 50.000,-
====================================
Promo Hot
KORANPOKER :
- New Member 20%
- Setiap Deposit 5%
- BONUS REFERRAL 30%
- BONUS CASHBACK 0,5%
====================================
CONTACT US :
YM :
koranpoker
HP : +85595615205
Pin BB : D62B4D54
0 Komentar